Selasa, 04 Januari 2011

Sertifikasi Instruktur SEACF 2007 - Singapura

Presentasi Materi Dasar Kurikulum Sekolah Panjat Tebing Skygers
Tanggal 1 s/d 3 Desember 2007 saya dan Ali mengikuti kursus instruktur berlisensi Southeast Asia Climbing Federation (SEACF) di Gymnasium Climb Adventure, West Coast Recreation Centre – Singapore.

Peserta yang mengikuti kursus tersebut ada 7 orang, dari Indonesia 2 orang dan Singapura 5 orang. Kami mewakili Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) - Sekolah Panjat Tebing Skygers Indonesia, sedangkan dari Singapura; dari Outward Bound Singapore (OBS)   2 orang, gurkha army 1 orang, polisi 1 orang dan freelance 1 orang.

Amir Mostafa Memberi Materi
Instruktur kursus ada dua orang, Amir Mostafa dan Aizan Asmaon. Hari pertama dan kedua oleh Aizan, hari ketiga oleh Amir.

Lisensi instruktur SEACF berlaku untuk dua tahun, selama itu pula kami bisa mengadakan kursus tahap satu dan dua di delapan negara Asia . Lisensi bisa diperpanjang dengan mengikuti placement test.
Read More......

Selasa, 21 Desember 2010

Ramadhan Sumatra Climbing Tours 2006 - Air Terjun Sigura-gura Asahan, Sumatra Utara

Olah raga tambahan selepas memanjat tebing
Sore hari kami meninggalkan tebing Simarsolpa. Lintasan menuju jalan utama becek & beberapa menjadi genangan air. Saat melintasi tanjakan berlumpur, salah satu mobil tidak bisa lewat. Mobil bak untuk membawa perlengkapan berkali-kali mencoba melintas, namun tetap saja gagal. Kami coba mendorong bersama-sama, tapi tetap saja gagal. Ali kemudian memberi saran. "Sebaiknya ada sebagian yang tetap mendorong dan sebagian lagi menarik mobil menggunakan tali", kata Ali. Di pandu dengan itungan satu dua dan tiga, kami bersama-sama mengeluarkan tenaga untuk melintaskan mobil melewati jalan yang berlumpur. Tak peduli lagi akan lumpur menempel di kaki yang sempat membuat beberapa orang terjerembab. Pergerakan pun terus di pandu dengan itungan.  Fiuh, akhirnya sukses juga usaha kami . Alhamdulillah. Selepas rehat dan bersihkan lumpur di kaki, kami kembali ke mobil masing-masing melanjutkan perjalanan.

Sejenak di pondok menikmati malam
Sejam meninggalkan Pematang Siantar, kami berbuka puasa sambil melaju menuju arah Asahan. Kami sempatkan singgah sebelum memasuki Danau Toba. Singgah di pondokan yang ada di bahu jalan. Memanjakan mata melihat pulau Onta dan gemerlap cahaya  lampu-lampu rumah penduduk. Setengah jam kami habiskan waktu bersantai dan bercanda. Kami kembali lanjutkan perjalanan. Melewati pintu masuk tempat wisata Danau Toba kami singgah di sebuah warung makan. Isi perut dengan makanan berat. Cukup lama hidangan tersaji, perut sudah terasa lapar. Buah pisang di santap meredam lapar yang menyerang.  Tetap menunggu, kami selingi dengan cerita-cerita seru. Satu persatu sajian di hidangkan, tak menunggu komando, kami pun segera menyantap hidangan di depan mata. Tak terasa sejam lebih kami di warung makan, dua batang rokok melengkapi kenikmatan setelah   bersantap. Tak ada lagi kegiatan yang mau kami lakukan, kecuali berisitirahat menikmati kembali perjalanan.

brrrr....terasa dinginnya


Menjelang tengah malam kami memasuki kawasan PLTA Asahan. Melewati rumah-rumah penduduk dan akhirnya perjalanan kami terhenti di rumah terakhir. Kami bertamu ke rumah Pa Siahaan. Segera kami menyampaikan maksud kedatangan kami. Di wakili Bang Marlon dari FPTI Pematang Siantar. Bang Marlon khsusuk bicara dengan bahasa Batak Karo, sebagian besar dari kami tidak mengerti isi pembicaraan. Kata Bang Marlon pada kami, inti bahasanya ijin ikut menginap dan akan memanjat tebing di air terjun. Kami pun memperkenalkan diri masing-masing. Setelah ngobrol sebentar, kantuk mulai menyerang. Masing-masing ambil posisi untuk mengistirahatkan diri. Tak lama  kami semua tertidur pulas.

Hari pertama, baberapa orang bangun pagi. Lainnya masih ada yang terlelap. Karena tidur larut malam, sahur pun terlewatkan. Pagi itu, beberapa orang melakukan aktivitas yang di inginkan. Memotret, survei ke air terjun dan mandi di derasnya aliran air terjun. Sejam selepas itu kami berkumpul di depan rumah. Menyiapkan perlengkapan pemanjatan. Menjelang siang kami baru memanjat. 


Melipir ke kiri mencari celah untuk memudahkan pemanjatan
Dingin…kata pertama keluar dari kami. Maklum kami memanjat persis di samping kanan kucuran air. Didin mencoba merintis jalur. Ali sebagai penambat. Dingin air makin menusuk. Didin tidak dapat melanjutkan merintis jalur. Saya kemudian menggantikan Didin, berusaha merintis jalur. Fiuh, pergerakan saya lamban sekali. Licin, mata perih dan dingin yang terus menusuk memudarkan hasrat untuk terus memanjat. Pengaman yang terpasang tidak terlalu bagus. Seringnya saya memasang pengaman pasak, meskipun hanya masuk setengahnya saja. Sedang pengaman sisip simetris dan sisip pegas hanya terpasang satu atau dua titik pengaman. Sesekali saya beristirahat, perut pun terasa lapar. Saya coba lagi menambah ketinggian, kadang menambah ketinggian dengan bantuan pegangan dan pijakan pada pengaman yang telah dipasang.     


Pemanjat kedua menuju tahapan satu
Di ketinggian belasan meter saya memasang dua pengaman permanen. Mengamankan diri, menambat untuk menaikkan pemanjat ke dua.  Di titik itumenjadi tahapan pemanjatan ke satu. Posisi saya sudah aman, segera memberi isyarat kepada Ali untuk mulai memanjat. Awalnya Ali memanjat bebas, kemudian masuk permukaan lurus Ali meniti tali yang sudah saya siapkan. Menuju tahap satu. Selain memanjat, Ali juga bertugas melepaskan pengaman yang sudah saya pasang. Di mana akan di pergunakan lagi untuk pemasangan pada pemanjatan selanjutnya. Sesampainya di tahap satu. Ali beristirahat sambil melepaskan pengaman jalan dan menggantungkan di pengaman permanen. Sejenak kami berbincang. Melihat perubahan curah air terjun yang semakin besar, kami memutuskan untuk turun menghentikan pemanjatan. Ali orang pertama turun, saya menyusul setelah menata sistem untuk turun. Setelah sampai dasar. Ternyata benar dugaan kami, curah air terjun semakin besar lagi. Kami pun segera melipir ke area yang lebih aman, agar terhindar dari terjangan air dan kejatuhan benda-benda yang terbawa oleh arus air. Terasa sekali oleh kami, mata semakin perih dan tubuh pun makin menggigil, tapi kami terus bertahan untuk puasa. Melangkah lamban, kami menuju rumah Pa Siahaan. Sampai rumah, segera kami ganti pakaian dan mengistirahatkan diri. Berebah, kemudian menuju alam mimpi. Menjelang sore kami terbangun, segera kami bereskan perlengkapan. Kami sempatkan bereskan isi rumah yang telah kami buat berantakan. Setelah pamit ke Pa Siahaan, kami bergerak pulang menuju Medan.
Read More......

Kamis, 16 Desember 2010

Ramadhan Sumatra Climbing Tours 2006 - Simarsolpa Pematang Siantar, Sumatra Utara


Siporok -  menjadi rawan bila turun hujan 
Selepas juhur bis meninggalkan terminal Bukit Tinggi melaju menuju Medan. Duduk santai dalam bis, melalui jalan berkelok-kelok. Alhamdulillah tidak memusingkan kepala, seperti perjalanan sebelumnya. Menjelang petang bis singgah di warung makan, memberi kesempatan pada penumpang untuk istirahat, meluruskan badan dan isi perut. Sejam berlalu, bis berangkat kembali dengen kecepatan sedang. Dua jam meninggalkan warung, bis  mulai melambat dan berhenti. "Ada apa pir", tanya seorang penumpang. Macet, "masuk jalan rusak"  kata sopir. "Daerah mana ini", tanya saya. "Sipirok" jawab sopir. Duduk di kursi dan kembali

Tebing yang akan di gapai sang jari
tertidur. Sekitar pkl 24.00 aku terjaga. Bertanya dan mendapatkan informasi yang sama. Ternyata masih terjebak di Sipirok. Kantuk kembali menyerang, saya pejamkan mata untuk melanjutkan mimpi. Sahur-sahur-sahur, terdengar suara di bis, kami terbangun dan bersahur dengan roti yang tersisa. Tidak terdengar bunyi mesin bis, saya melihat ke arah luar bis. Tampak lampu-lampu dari kenderaan lain yang berjajar. saya keluar dari bis, memastikan apa yang terjadi. Berjalan perlahan dan penuh hati-hati di atas tanah yang becek menuju arah depan bis. Wew,  sebuah bis terperosok cukup dalam. Belum tampak ada pergerakan dari orang-orang untuk mendorong bis yang terperosok. Sekitar pkl.08  sekelompok orang mulai mengatur lajur yang aman untuk di lalui,
sebagian lagi membantu bis yang terperosok. Satu persatu kenderaan berhasil melewati lajur becek sepanjaang 200 meter. Begitu pun bis yang kami tumpangi. Dua belas jam terjebak di Sipirok, mantaaap.



Canda tawa sebelum tidur
Kami turun di Pematang Siantar sekitar pkl. 16 Tim Corssa Medan sore itu sudah menunggu di bahu jalan. Tanpa buang waktu lagi,  kami menuju tebing. Menjelang senja kami sampai di rumah salah seorang penduduk empunya kebun sawit. Kami minta ijin untuk mendirikan tenda di pekarangan rumah beliau. Sebentar saja kami mendirikan dua tenda. Azan tak terdengar, kami berbuka dengan petunjuk waktu. Setelah makan, kami ngobrol seputar pemanjatan di Lembah Harau. Asik ngobrol, tak terasa malam semakin larut. Sebelum terlelap, kami siapkan perlengkapan memanjat untuk besok hari.



Lintasan pemanjatan menuju tahap dua
Hari pertama, sebelum merintis jalur menuju puncak kami memasangkan jalur "top rope" untuk latihan panjat teman-teman Corssa dan FPTI Pematang Siantar. Ali perintis jalur sampai tahap satu, sukses mengikuti celah lurus. Didin mengamankan Ali yang sedang merintis jalur. Menuju tahap dua Didin mengambil jalur lurus, membentang tali sekitar 10 meter. Didin mencoba mengarah ke kiri. Lumayan terasa perjuangan Didin untuk melanjutkan pemanjatan. Jalur yang di gapai terputus, nyaris tak ada cacat tebing. Terik matahari begitu menyengat, Didin tidak bergabung untuk melanjutkan pemanjatan. Didin turun dari tahap satu menuju dasar tebing.  Saya coba menggantikan Didin, berusaha melipir ke kanan. Cukup lama saya menggapai tahapan kedua, masuk ke rimbunnya vegetasi. Saya dan Ali bergantian merintis jalur.  Sampai tengah hari kami mencapai tahap lima. Posisi di ketinggian 150 meter dari dasar tebing. Lapar dan dahaga sangat terasa, tapi terus bertahan untuk berpuasa. sejam beristirahat, akhirnya kami putuskan untuk turun. Tidak menuntaskan pemanjatan sampai ke puncak. Kami turun lurus dari tahapan lima. Tahapan terakhir turun ke dasar tebing, kami masuk ke semak-semak. Cukup menyulitkan kami untuk melewatinya. Menjelang magrib kami berkumpul di tenda. Sebelum tidur kami menceritakan  proses pemanjatan tadi siang, kemudian evaluasi pemanjatan. Sebelum istirahat kami menyiapkan peralatan untuk hari kedua.

Pemasangan pengaman permanen untuk jalur panjat bebas
Hari kedua, kami tidak memanjat untuk ke puncak. Kami membuat jalur-jalur panjat bebas, tiga jalur kami buat dangan pengaman permanen. Pemasangan  pengaman permanen di bantu oleh rekan-rekan dari Corssa dan FPTI Pematang Siantar. Tingkat kesulitan beragam, dari 5.9 s/d 5.10. bergantian menjajal jalur-jalur yang di buat. Selepas juhur kami kembali ke tenda. Beres-beres perlengkapan dan tidak lupa pamitan kepada Bapak empunya kebun sawit.  Sore itu, kami menuju PLTA Asahan.

Foto keluarga : Skygers, Corssa, FPTI Pematang Siantar
Read More......